Sejarah Dusun Rantau Embacang

Pak Ngah 3 21.23
Mengkaji mengenai asal usul penduduk Dusun Rantau Embacang penting untuk dilakukan. Selain untuk memberikan pengetahuan kepada generasi saat ini juga untuk membukukan sejarah tersebut agar bisa dibaca setip saat. Namun dalam penyusunannya tersebut tentu akan mengalami hambatan, karena sumber penulisan akan terpaku pada cerita-cerita dari tokoh-tokoh masyarakat maupun literatur-literatur lain yang relevan. Berikut merupakan kisah berdirinya Dusun Rantau Embacang.Satu cerita yang sangat melegenda adalah keberadaan raja yaitu Sultan Mangkubumi dan seorang putrinya yang cantik jelita yaitu Puti Bensu. Konon, dahulu kala letak Dusun Rantau Embacang saat ini bukan lah di lokasi sekarang melainkan diseberang sungai batang tebo, masyarakat Rantau Embacang saat ini sering menyebut tempat itu umo semerang/umo seberang. Ditempat itu menurut saya memang sangat ideal untuk dijadikan pemukiman karena selain memang disana sebagai lahan pertanian juga karena tanahnya yang datar, dan lebih mudah untuk beristirahat sekaligus bercocok tanam. Bahkan ditempat itu dulunya sudah diberikan nama dusun yaitu Dusun Sungai Duo. Tetapi karena seringnya banjir yang menerpa daerah tersebut, masyarakat akhirnya mencari daerah pemukiman baru, yaitu dilokasi Dusun Rantau Embacang saat ini.

Dusun Rantau Embacang terdiri dari enam kampung yaitu Sungai Samak, Air Mancur, Bukit Cermin, Bukit Jaya Inpres, Taman Jaya dan Kerang Jaya. Hipotesa awal saya meyakini rombongan masyarakat umo seberang berpindah kelokasi Rantau Embacang saat ini melalui 2 jalur yang pertama melalui Sungai Samak yang merupakan anak sungai batang tebo dan yang kedua melalui Bukit Cermin via umo mudik bukit (lahan pertanian mudik bukit). Dilokasi yang baru ini memang berbukit-bukit tanahnya tidak datar. Sehingga saat ini ada istilah ''deteh bukit'' merujuk pada Kampung Bukit Cermin dan ''baruh'' (baghuh) merujuk pada Kampung Air Mancur dan Kampung Sungai Samak. Pemukiman awal Dusun Rantau Embacang berada di Kampung Sungai Samak (kampung ilir) dan Kampung Air Mancur (kampung tengah).

Kampung Sungai Samak ini namanya diambil dari sebuah sungai kecil yang berada di bagian timur Dusun Rantau Embacang saat ini. Sungai ini sangat kecil dengan lebar 4-6 meter, saat ini sungai ini masih dijadikan warga Rantau Embacang untuk keperluan MCK. Hipotesa awal saya meyakini sungai ini pada awalnya dipenuhi semak belukar, sehingga sungai ini dinamakan sungai samak. Samak ini berasal dari bahasa Minang yang kalau diindonesiakan berarti semak.

Kembali ke sosok Sultan Mangkubumi dan Puti Bensu, dari cerita turun temurun Sultan Mangkubumi adalah seorang raja bagi masyarakat Rantau Embacang yang berasal dari Mataram. Sedangkan Puti Bensu adalah anak Sultan Mangkubumi. Jika kita melihat sejarah marga Tanah Sepenggal, maka nama Sultan Mangkubumi memang ada dan memang menjadi pemimpin wilayah Tanah Sepenggal dimasa lalu. Beliau berasal dari Mataram dan mendapat izin dari Sultan Jambi waktu itu untuk membuka lahan di bagian barat Kesultanan Jambi atau diwilayah Tanah Sepenggal dan Tanah Sepenggal Lintas saat ini, beliau memerintah Tanah Sepenggal di Balai Panjang atau di Dusun Tanah Periuk saat ini.Dusun Rantau Embacang adalah satu dari delapan dusun yang termasuk dalam marga adat Tanah Sepenggal. Kedelapan dusun inilah yang menjadi cikal bakal keberadaan semua dusun yang ada di Kecamatan Tanah Sepenggal dan Tanah Sepenggal Lintas saat ini. Kedelapan dusun tersebut adalah Tanah Periuk, Candi, Rantau Embacang, Lubuk Landai, Sungai Mancur, Teluk Pandak, Empelu, dan Tanjung.

Dalam cerita turun temurun di Dusun Rantau Embacang juga disebutkan bahwa Sultan Mangkubumi dan putrinya juga menetap di Dusun Rantau Embacang. Penamaan Rantau Embacang sebagai nama dusun juga erat kaitannya dengan keberadaan Sultan Mangkubumi dan putrinya. Kata ''rantau'' diambil dari kata ''perantau'', ini mengartikan bahwa Sultan Mangkubumi adalah seorang Raja yang juga perantau dari Mataram. Saya tidak sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa kata perantau maksudnya adalah penduduk Rantau Embacang itu berasal dari Mataram (jawa) karena kalau berasal dari jawa tentu dihari ini masih ada jejak-jejak jawa di Rantau Embacang nyatanya tidak ada. Dusun Rantau Embacang saat ini justru sama dengan dusun-dusun lain di Provinsi Jambi yang mana dari segi adat tradisi, bahasa, budaya, dan sebagainya malah sama seperti kebudayaan Melayu Jambi. Tidak ada satupun kebudayaan Jawa yang diadopsi di Dusun Rantau Embacang. Saya meyakini Sultan Mangkubumi waktu itu hanyalah sebagai pemimpin bagi masyarakat Rantau Embacang. Apalagi menurut cerita turun temurun, sebelumnya pemukiman masyarakat Rantau Embacang berada di seberang dusun saat ini.

Terus untuk kata kedua yaitu ''embacang''. Ada pendapat yang mengatakan kata ini berasal dari bapancang-pancang, ceritanya dahulu sungai batang tebo yang berada didusun Rantau Embacang dipenuhi dengan semak belukar, makanya orang-orang tua dulu sibuk memancang-mancang atau menebas-nebas semak tersebut. Tapi kalau menurut pendapat saya justru yang dipenuhi semak belukar adalah Sungai Samak bukan sungai batang tebo, yang dipancang-pancang oleh orang-orang tua dulu saya meyakini adalah semak belukarnya Sungai Samak bukan sungai batang tebo.

Kemudian ada pendapat lain mengenai kata ''embacang'', ada yang mengatakan bahwa kata itu diambil dari kata Babancang, babancang ini diartikan berbincang-bincang, konon Sultan Mangkubumi mempunyai seorang putri yaitu Puti Bensu. Dalam cerita turun temurun Puti Bensu ini digambarkan tidak mau bicara dengan siapapun, sampailah pada suatu hari, Rantau Embacang didatangi seorang pemuda yang berasal dari Kerinci. Pemuda inilah yang berhasil mengobati puasa bicaranya Puti Bensu. Atas hal itulah orang-orang tua dulu menetapkan nama dusun ini dengan nama Rantau Babancang. Dalam perkembangannya untuk memudahkan penyebutan namanya diganti menjadi Rantau Embacang.

Terlepas dari semua cerita diatas, sebetulnya masih banyak misteri yang belum terungkap mengenai asal usul Rantau Embacang. Memang sangat sulit mencari cerita yang benar. Mengingat diantara cerita dari orang-orang tuapun banyak yang berbeda pendapat.

Dusun Rantau Embacang saat ini terdiri dari empat kampung. Dusun-dusun lain yang didirikan oleh anak keturunan Rantau Embacang adalah Dusun Paku Aji, Dusun Pasar Rantau Embacang, dan Dusun Rantau Makmur.

Sekian sedikit pembahasan mengenai sejarah Dusun Rantau Embacang, belum lengkap memang tapi setidaknya saya sudah berusaha mencari tau asal usul dusun tempat kelahiran saya mengingat sedikitnya yang mau mencari tau tentang dusunnya sendiri.

3 komentar

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Search

Arsip Blog